By: Inez
Topic: February 2025
Leadership – Inspiring Others to Take Action
Sejak mulai kuliah beberapa bulan yang lalu, aku membuat keputusan untuk keluar dari cangkang introver dan mulai melatih diri untuk menjadi seseorang yang bisa beropini dengan suara, bukan dengan pikiran saja. Jadi, sejak semester kedua, aku maju menjadi leader di berbagai tugas kelompok, dan aku belajar banyak hal tentang kepemimpinan, khususnya, gimana susahnya untuk memimpin. Pertama, aku harus menjadi orang yang bisa dijadikan panutan dan disegani oleh anggota kelompok lainnya. Ini sangat penting untuk memimpin tim yang efektif, karena bagaimana kami sebagai leader akan diikuti jika kita ga disegani. Untuk mencapai ini, aku suka berpura-pura. Maksudnya, aku walaupun seringkali stres dan takut tentang status tugas kelompok, aku tetap bersikap tenang dan ceria di hadapan anggota kelompok. Pernah denger frase ‘fake it til you make it’? Ya, aku sering mengeksploitasikan kebijaksanaan itu.
Tapi tentu aja aku ga boleh sering takut. Dengan menjadi leader, aku dalam proses belajar keahlian ‘time management’ yang menjadi panutan kelompok dan memberi aku sejumput kenyamanan. Tambahan, aku juga belajar membagi tugas ke masing-masing anggota dan menerapkan timeline untuk kami semua. Tetapi, untuk memastikan bahwa timeline tersebut sedang diikuti, aku berkembang menjadi orang yang sangat bawel. Meskipun cara mengingatkan sangat sopan-santun dengan banyak emoji, mungkin itu tetap menyebalkan. Tetapi, sebagai leader aku ga boleh terlalu memikiran perasaan orang lain, tugas aku adalah untuk membimbing tim dan menyelesaikan tugas dengan baik dan benar. Sejauh ini, tugas kelompok-kelompok aku sih lumayan sukses.
Tapi jangan salah, aku masih harus menghadapi teman kelompok yang ga menghargai aku sebagai leader dan tunda-tunda kerja mereka. Di sinilah aku paling mau cabut rambut aku sendiri. Aku sekarang di semester 3, dan aku belajar bahwa di semua kelompok, pasti ada satu, dua atau mungkin semua orang yang malas dan tidak menyelesaikan tugasnya. Bahkan ada juga yang ga angkat jari kelingking pun untuk kontribusi.

Nah, aku udah coba segala cara untuk mengatasi masalah ini, dari ngomong baik-baik, ke tegas, sampai juga mengancam mereka. Kadang-kadang, salah satu dari cara itu berhasil, tapi kita juga harus tau limitnya apa. Pada satu titik, kita harus berkata ‘cukup’ ketika ada anggota kelompok yang ga bisa diajak kerjasama dan keluarkan dia dari kelompok. Makanya harus ada special deadline kalau ada masalah seperti ini.
Yang ketiga kusadari adalah kebanyakan kalinya, pola pikiran anggota-anggota yang ada di kelompok aku sangat berbeda dari aku – seringkali aku suka tercengang dengan cara mereka mengatasi masalah. Gara-gara itu, aku jadi suka marah, cepet stres, dan suka pikir “Kok mereka kayak gini sih? Kan cara aku lebih masuk akal.” Tapi lama-lama aku mulai sadar, sebagai pemimpin, aku harus terima dan beradaptasi dengan cara kerja mereka masing-masing dan menghadapi mereka dengan cara yang sesuai. Kalau kita keras kepala paksa kehendak, akhirnya ga kesini ga kesana dan tugas kita ga kelar-kelar. Jadi kita harus coba mengenal setiap anggota kelompok kita dan membiasakan diri dengan sikapnya. Aku juga harus mengingatkan diri bahwa walaupun cara aku berbeda, bukannya berarti lebih benar dari yang lain.

Melanjuti pembicaraan ini, aku benar-benar harus belajar kesabaran tingkat dewa. Aku seorang anak bungsu yang sering dimaklumi keluarga ketika sedang frustasi, jadi ini adalah salah satu pelajaran yang sangat berat bagi aku. Teman-teman, bersiaplah untuk menghadapi pertanyaan yang diulang-ulang seribu kali. Walaupun mungkin pertanyaan tersebut sangat jelas jawabannya bagi mu, tapi ga semua orang seperti kamu, jadi sabarlah. Kesabaran sebagai leader itu juga akan meningkatkan kenyamanan di kelompok, karena itu akan menunjukkan anggota lain bahwa ini adalah safe space untuk mereka bertanya. Kan kalau mereka ga tau sesuatu, tugas akan terhambat. Remember guys, no question is a stupid question if you’re a leader. Tapi kalau bukan leader silahkan angkat alismu.
Lastly, aku juga sering mengalami periode kekurangan motivasi, dan aku membiarkan itu menghalangi tanggung jawab aku sebagai leader, jadi sebenarnya aku tuh masih jauh banget dari pemimpin yang sempurna. Tetapi, kedepannya aku akan terus maju menjadi leader dan terus belajar menjadi seorang yang bisa menjadi role model buat lainnya. Siapa tau, mungkin suatu hari aku jadi Presiden. Dengan sungguh-sungguh, sejak mengambil posisi leader beberapa kali ini, aku menyadari bahwa aku udah berubah, meskipun sedikit aja.



Yuk share pendapat kamu!